Amie0709's Blog

Just another WordPress.com weblog

Berbagi Cerita dan Pertemanan Jarak Jauh di “Era Digital”

FOTO_20181112_033430

Bagi saya dan mungkin kebanyakan orang, memiliki teman sebanyak-banyaknya adalah sesuatu hal yang penting dan sangat berarti. Sebagai seorang manusia dan “makhluk sosial” yang hidup di tengah-tengah masyarakat lainnya, tentu kita tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan kehadiran orang lain dalam hidup kita. Kita butuh teman untuk bersosialisasi, bergaul, mengobrol, atau hanya bicara seperlunya dan sekedar saling menyapa. Interaksi sesingkat apapun sangat diperlukan bagi kita, yang pada dasarnya tidak bisa hidup sendiri, meskipun di sisi lain, manusia pun memerlukan waktu “kesendirian” dalam dirinya, yang tidak bisa diganggu oleh orang lain.

Berteman bisa dengan siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Namun akan lebih baik jika kita berteman dengan orang-orang baik, di tempat dan lingkungan baik, dan dalam waktu yang baik pula. Bila pertemanan itu terjadi lebih intens dan hubungannya menjadi lebih dekat, maka pertemanan itu berlanjut ke tahap “persahabatan”, dan orang-orang yang berteman dekat itu disebut sebagai “sahabat”.

Meski waktu terus berjalan dan zaman terus berubah dengan cepat, namun manusia tetap memerlukan teman dalam hidupnya. Begitupun di “Era digital” seperti sekarang ini, kehadiran berbagai teknologi yang canggih termasuk dalam hal teknologi informasi dan komunikasi, tak akan mampu menggantikan posisi “sesama manusia” sebagai teman atau sahabata. Meskipun tak bisa kita pungkiri, pesatnya teknologi informasi dan komunikasi saat ini membuat manusia seperti hidup dalam “kotak emas”, asyik dengan dunianya sendiri dan cenderung menjadi “soliter” dan bahkan “anti sosial”.

Saya lahir, tumbuh dan besar di Era teknologi dan komunikasi belum secanggih dan sepesat sekarang. Saya lulus SMA pada tahun 2000. Jadi bisa dibilang saya anak sekolah tahun 90-an. Waktu itu jangankan handphone, telepon rumah pun masih terbatas dimiliki oleh orang yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Kebetulan saya bukan termasuk didalamnya, dan justru termasuk golongan “Elit” alias Ekonomi Sulit. Rumah saya pun rumah kontrakan, dan tentunya saya tidak memiliki telepon rumah. Jadi saya jarang bertelepon-teleponan dengan teman-teman saya kecuali jika sangat penting, dan melakukannya di telepon umum.

Begitupun saat saya pindah kota dari kota Subang ke kota Tasikmalaya. Saya dan keluarga saya tinggal di rumah kontrakan. Jika ingin berkomunikasi dengan sahabat-sahabat lama saya di kota Subang, saya melakukannya melalui surat. Dulu saya cukup sering melakukannya. Mungkin dalam sebulan saya bisa 3-4 kali berkirim surat dengan sahabat-sahabat saya yang berbeda-beda. Bisa dibilang berkirim surat dengan mereka saat itu menjadi “pelipur lara” dan pengobat rindu saya kepada mereka, sekaligus sarana untuk bertukar informasi seputar keadaan di sekitar tempat kami tinggal. Jadi meskipun saya jauh dari mereka, namun saya tak ketinggalan informasi tentang apapun yang terjadi di kota sebelumnya saya tinggal.

Berkirim surat saat itu merupakan satu-satunya cara yang efektif dan “murah meriah” untuk menjalin persahabatan dan komunikasi jarak jauh. Karena saya tidak punya telepon rumah, jadi akan sangat menguras biaya jika harus menelpon interlokal ke luar kota di telepon umum. Meski memang dengan berkirim surat kita tidak bisa berinteraksi secara langsung, dan tentunya memakan waktu cukup lama untuk sampai ke tangan kita, namun pada waktu itu tak ada pilihan lain yang bisa kami lakukan. Dan ada “seni tersendiri” saat kita berkirim kabar lewat surat. Selain perasaan harap-harap cemas menanti balasan surat, juga ada perasaan “unik” setiap kali menyentuh surat, membuka kertasnya lalu membaca isi suratnya, yang bisa kita lakukan berulang-ulang sampai mungkin kita hapal isi suratnya!

Pada awal tahun 2000an setelah lulus SMA, kebiasaan berkirim surat dengan sahabat-sahabat lama saya masih tetap saya lakukan, meski intensitasnya mulai berkurang. Hingga akhirnya mulai merebak pemakaian “handphone” meski masih terbatas fasilitas dan fitur yang ada, hanya terbatas pada “menelepon” dan berkirim “SMS”. Pada tahun 2004-2008 saya berkomunikasi dengan sahabat-sahabat saya melalui handphone, meski tak begitu sering kami lakukan. Lalu tak lama munculah “media sosial pertemanan” yang dimulai dengan “Friendster”, namun yang perkembangannya paling pesat dan populer adalah “Facebook”.

Dari sinilah dimulainya Era baru berkomunikasi dan berteman jarak jauh, yang seiring waktu berjalan peminatnya semakin meluas dari berbagai kalangan, gender, usia, profesi, dsb.

Saya sendiri bergabung di “Facebook” pada sekitar bulan Juni tahun 2009. Dari FB inilah saya mulai mencari  teman-teman lama yang paling ingin saya ketahui dan mengirim pertemanan kepada mereka. Saya pun cukup banyak dikirimi permintaan teman baik dari yang sudah kenal sebelumnya, maupun yang belum pernah kenal sama sekali. Biasanya hal itu terjadi dalam satu komunitas tertentu, misalnya penggemar klub olahraga(terutama sepakbola), atau komunitas lainnya.

Dari FB inilah kita bisa melihat dan mengamati orang-orang yang aktif di media sosial tsb, yang tampil dalam “beranda” FB kita jika ia termasuk teman kita di FB. Ada saja yang mereka postingkan setiap hari. Dari mulai foto tentang diri mereka sendiri, foto bersama orang-orang terdekat(pasangan, anak, keluarga, sahabat), aktivitas mereka sehari-hari, profesi atau bisnis mereka, kegemaran mereka, simbol kesuksesan hidup(rumah, mobil, liburan ke luar negeri, dsb), foto kuliner, foto hewan kesayangan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Selain melihat foto, kita pun bisa membaca tulisan-tulisan di FB yang sangat variatif, dari mulai tulisan yang inspiratif, motivatif, mengharukan, menghibur, sampai curhatan “lebay” yang seringkali tak masuk akal, bahkan tulisan tak penting yang ala kadarnya saja!

Saya termasuk cukup aktif di media sosial FB tsb, terutama pada awal-awal tahun bergabung dan beberapa tahun terakhir ini. Saya juga cukup sering menggunakannya untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman-teman saya, baik teman dekat maupun teman biasa, baik saling berkomentar hangat, berbagi cerita, atau hanya menyapa seperlunya saja. Dengan FB juga saya bisa “mengintip” atau “stalking” orang yang ingin saya cari tahu profil dan keadaannya, tanpa harus menyapa atau mengajaknya bicara. Seru, bukan?! Haha…

Saya juga senang “stalking” artis-artis ternama, berbagai “public figure” lainnya, bahkan akun gosip melalui media sosial “instagram” yang menampilkan foto-foto mereka. Karena Instagram pula banyak bermunculan artis instagram atau biasa disebut “selebgram”, yang memiliki cukup banyak “follower” dan banyak menerima “endorse” dari berbagai produk sponsor dengan tarif yang jauh lebih murah dibandingkan bila memakai jasa “artis terkenal”. Namun saya hanya menggunakan instagram untuk posting foto seperlunya saja(selama beberapa bulan ini saya lebih sering memposting foto untuk berbagai lomba-lomba foto tertentu).

Ada juga media sosial “twitter” yang saya miliki, namun saya jarang membukanya karena kebanyakan teman saya juga tidak aktif di twitter. Lalu yang paling baru namun tak berumur panjang adalah media sosial “Path”, yang sama sekali tidak pernah saya tahu seperti apa bentuknya, hingga akhirnya media sosial ini resmi ditutup pada bulan Oktober kemarin. Berkongsinya FB dan Instagram dalam mendominasi pasar “media sosial” di dunia, mungkin menjadi salah satu faktor penyebab lesunya bisnis “Path”, hingga tak mampu bersaing dan akhirnya resmi ditutup.

Bila ingin mengobrol secara pribadi dengan sahabat-sahabat lama saya, saya melakukannya melalui “WhatsApp”, baik berkirim chat, menelpon, sampai video call, sehingga bisa lebih terasa nyata dalam berkomunikasi. Dengan berkomunikasi melalui WA kita tak perlu menggunakan pulsa seperti layaknya menelepon biasa, dan hanya menggunakan kuota. Aplikasi ini juga digunakan untuk membentuk grup “WA” yang dibuat oleh komunitas atau kelompok-kelompok tertentu, misalnya grup keluarga besar, grup alumni sekolah, grup di tempat bekerja, grup orangtua murid, grup komplek perumahan, grup hobi, grup religi, grup politik, dan sebagainya. Dalam grup “WA” biasanya terjadi percakapan seru yang melibatkan cukup banyak orang. Namun saya pribadi tidak banyak mengikuti grup di “WA” ini dan hanya seperlunya saja berkomunikasi disini.

Sebenarnya sebelum aplikasi ini “merajalela” dalam beberapa tahun terakhir ini, saya dan teman-teman dekat saya berkomunikasi melalui aplikasi “BBM” (Blackberry Messenger). Namun perlahan tapi pasti, aplikasi ini mulai sepi peminat dan telah banyak ditinggalkan. Ada juga aplikasi lain yang sejenis seperti “LINE”, “Me Chat”, dsb, namun saya tidak pernah menggunakannya.

Selain berbagai media sosial dan aplikasi chat populer yang hadir di masyarakat, tentu saja ada jejaring sosial raksasa “Youtube”, yang dikenal dan diminati luas oleh hampir semua kalangan. Bahkan anak balita saja sudah tahu dan menggemari “Youtube”! Berbagai konten yang ingin kita lihat dan kita cari, ada di sana. Dari mulai tutorial make up, memasak, fashion, sampai hal-hal unik dan “nyeleneh” ada di sana.

Sama seperti instagram, youtube juga menjadi “ladang rejeki” bagi orang-orang kreatif, bahkan cakupannya jauh lebih luas, karena hadir dalam bentuk video yang dinamis dan utuh. Orang-orang yang aktif dan kreatif di youtube disebut “Youtuber”. Bila mereka membuat konten menarik di kanal youtubenya, memiliki banyak penggemar, dan kontennya banyak dilihat oleh orang, mereka bisa menghasilkan uang yang melimpah dari “youtube”. Tak terhitung berapa banyak ” youtuber” yang menjadi seorang “miliarder”, baik dari tanah air maupun mancanegara.

Berbicara hidup di “Era Digital” memang seperti tak ada habisnya. Menyenangkan, sekaligus “menjerumuskan”. Bermanfaat, sekaligus “berbahaya”. Semua tergantung bagaimana cara dan sikap kita dalam menggunakan, mengolah, mencerna, dan membagikannya. Akal sehat, logika, pemikiran jernih, hati yang bersih, dan tentu saja keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME sangat dibutuhkan untuk menangkal dan membentengi diri dari berbagai pengaruh buruk di era digital ini. Dan bagi anak-anak di bawah umur, tentunya masih sangat membutuhkan bimbingan dan arahan dari orangtua, guru, dan keluarga dalam menggunakan ” internet” dan “gadget” supaya tidak terjerumus dalam hal-hal negatif seperti seks bebas, kekerasan, narkoba, dsb.

Pastikan bahwa “Era Digital” adalah era peradaban modern yang harus dimanfaatkan dan dieksplorasi untuk menghasilkan karya-karya mutakhir dan bermanfaat untuk kepentingan manusia, makhluk hidup lainnya, dan juga lingkungan hidup dan alam tempat kita berada. Sedangkan untuk hal yang paling sederhana adalah digunakan untuk menjalin pertemanan dan tali silaturahmi antar sesama manusia, selain juga media bertukar informasi, ilmu, wawasan, dan cerita, dan tentunya sebagai media untuk berkarya, berekspresi, dan berkreasi seperti yang telah saya uraikan di atas.

Dan satu hal yang tak boleh dilupakan, meskipun kita hidup di “Era Digital” yang serba canggih dan modern, namun jangan sampai mengikis “humanisme”, kepedulian sosial, dan juga empati kepada sesama manusia, makhluk ciptaan Tuhan lainnya, dan juga lingkungan hidup.

Apakah anda setuju dengan pendapat saya?

Link yang diikuti :

https://www.domainesia.com/hosting/

https://www.domainesia.com/tips/cara-membuat-blog-profesional/

 

 

 

 

Iklan

November 12, 2018 - Posted by | Uncategorized |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: